Senin, 02 Juli 2012

RESENSI BUKU III

 Membongkar Wacana Hegemonik dalam Islam dan Post Modernisme

Judul buku          : Membongkar Wacana Hegemonik dalam Islam dan Post Modernisme
Judul Asli            : Min Faisal Tafriqah Ila Fasli Al-Maqal
Pengarang           : Dr. Muhammed Arkoun
Penerjemah          : Dr. Hasyim Shalih
Jumlah Halaman : 310
Penerbit               : Al-Fikr, Surabaya

Pendahuluan:
Sebagai mana diketahui, al-Ghazali telah berjuang dengan penanya dan bersungguh-sungguh dengan kalbunya yang mukmin, kecerdasannya yang kuat, dan pengetahuannya yang luas dalam menghadapi aliran-aliran pemikiran yang dominan di waktu itu, seperti aliran filsafdat untuk menolak pandangan-pandangan metafoisik, aliran batiniyah untuk menghentikan upaya-upaya politis dan seruan-seruan keagamaan ilmiyahnya.
Perlu diningat bahwa dua kitab al-Ghazali dan ibn Rusyd, pada sisi produk pemikiran keduanya lebih mengutamakan pertukaran pikiran dari  fitnah diantara umat Islam, tetapi hal ini lepas dari perhatian para ulama’ dan para pemikir, serta tidak mewarnai mereka untuk mencapai ijtihad dalam masalah-masalah.
Masalah-masalah tersebut bukan hanya pelik bagi orang-orang Islam, tetapi juga bagi semua ”ahli kitab” secara umum, yaitu problem penafsiran dan penakwilan terhadap nash-nash wahyu serta cara-cara pengambilan hukum-hukum syari’ah dikalangan para fuqaha. Sudah jelas bagi setiap Muslim bahwa masalah tafsir dan takwil telah menjadi masalah yang paling penting dan pelik dalam hubungannya dengan struktur pengetahuan dan bentuk kemasyarakatan bagi pengetahuan dan perjuangan ideologis pada masa itu.
Para sejarawan wajib mensejarahkan kelalaian dalam pemikiran Islam sebagai suatu fenomena yang berlangsung secara terus-menerus dan mencakup berbagai bidang keilmuan. Dari semua polemik tersebut para pemikir selanjutnya berusaha mememukan titik tengah dari para pemikir Islam sebelumnya, termasuk disini Muhammad Arkoun yang akan menelusuri berbagai pemikiran para  pemikir Islam sebelumnya yang belum mampu menggugah semangat kaum Muslimin hingga saat ini untuk mencapai kemajuan ilmu pengetahuan. 

Isi Buku:
         Mazhab strukturalis telah meyakinkan kita dalam bidang linguistik dan antropologi tentang kemungkinan tercapainya pembentukan ilmu-ilmu huminiora yang dingin dan pasti, tanpa menerapkan suatu ketetapan nilai apapun pada ilmu-ilmu tersebut atau pada bidang-bidang kajiannya. Seperti diketehui bahwa mazhab strukturalis yang berkembang di Prancis selama masa terakhir ini berkeinginan untuk memisahkan antara kajian agama-agama Asia yang hanya dikaji oleh sebagian spesialis dari kelompok orientalis, demikian juga kondisi agama Yahudi dan Kristen. Demikianlah kita menemukan bahwa jika kita telah mengambil metode modern bagi pengkajian sejarah agama-agama, maka kita pasti akan berbenturan dengan penentangan-penentangan yang biasa dikenal muncul dari orang-orang ”Mukmin”.
         Sesungguhnya hegemoni intelektual yang dipraktekkan Barat ini tetap berjalan secara efektif, tetapi ia menutupinya dibalik wacana-wacana keilmuannya dan dibalik perjuangannya untuk menegakkan hak-hak asasi manusia, kemudian dibalik kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan seruan kepada demokrasi, dan seterusnya. Hegemoni ini secara keilmuan terlihat secara jelas pada preduksian yang menyebabkan kristalisasi istilah-istilah dari jenis mitos, mitosisasi, mitologi dan mitologisasi. Maka mereka dengan  sangat mudah beralih dari istilah mitos kepada mitologi tanpa mempertanyakan tingkatan-tingkatan latar belakang penggunanan mitos dan teks-teks keagamaan yang besar dan mendasar serta tujuan-tujuannya,atau pada teks-teks yang tertama tersebut. Sesungguhnya mitos dalam pengertian ini mengambil dan menghimpun seluruh bentuk perilaku ideal dan gambaran-gambaran simbol dengan medium penyusunan model bagi makna. Jika kita melakukan analisis dan persiapan kritis ini terhadap pengetahuan yang banyak beredar, maka kita akan mampu memahami sejauh mana urgensi pengambilan pandangan antropologi dan manfaat dalam kajian modern bagi agama.
         Dalm menghadapi jeritan ideologi yang menyuarakan dengan lantang wacana-wacana fundamentalis Islam kontemporer maka kami tidak menemukan kecuali wacana-wacana informasi barat yang menjawabnya dengan logat dan cara yang sama. Jika kita melihat masalah-masalah tersebut dari sudut pandang analisa kesejarahan, peradaban, dan antropologi, maka kita seharusnya memahami fungsi kenabian dengan sifatnya sebagai tindakan kretivitas dan produktif dari orang-orang besar.sesungguhnya diskursus kenabian sebagaimana pada awal kemunculannya menciptakan ”kewajiban makna” bagi orang-orang yang mengerti bagaiman amendengarkan. Sebagaimana diketahui bahwa funsi kenabian tidak mungkin menjalankan perannya kecuali pada suatu lingkungan pengetahuan yang lebih mengutamakan mitos daripada sejarah, spiritual daripada temporal, dan hal-hal yang sakral dengan sifatnya sebagai pengandali yang ketat terhadap yang profan dengan sifatnya sebagai ruang yang menyebar di dalam kekuatan-kekuatan yang saling tarik-menarik dan bersaing.
         Seperti diketahui bahwa pemikiran modern memberikan preseden bagi masalah kebenaran dan tujuan pada setiap kali menjadi revolusi. pendekatan yang dilakukan antara wahyu dan revolusi sama sekali bukanlah bersifat abriter. Setiap teks ini merupakan wacana keagamaan dengan semua kekhususan yang telah disebutkan sebelumnya, dari sudut pandang sejarah pemikiran sesungguhnya wacana wahyu selalu melontarkan pemikiran konsep dan pandangan revolusioner bagi dunia.

Peninjauan Buku:
            Setidaknya ada empat pendekatan, yang menurutnya patut dipertimbangkan untuk digunakan dalam study kebudayaan dan peradaban Islam era sekarang khususnya dan studi agama pada umumnya. Keberagamaan manusia, selain terkait dengan persoalan-persoalan akidah, keimanan digma, dan doktrin yang bersifat konseptual dan ritus-ritus peribadatan yang bersifat praktis yang oleh Arkoun corak pemahaman dan pendekatannya disebut sebagai pendekatan yang bercorak  ”keimanan” juga terkait dengan aspek kesejarahan yang melibatkan ruang dan waktu, pada dataran kesejahteraan ruang dan waktu, munculnya institusi-institusi, himpunan-himpunan, organisasi-organisasi dan kelembagaan agama pada umumnya, yang terkait dengan kelembagaan sosial, politik, budaya, ekonomi, keamanan dan begitu seterusnya.
            Gagasan-gagasan, ide-ide, konsep-konsep, mazhab-mazhab, dan aliran-aliran yang dirumuskan dengan golongan cendik pandai, ulama, penulis kitab dan buku-buku keagamaan yang menggunakan metodologi keilmuan tertentu sebenarnya juga termasuk dalam wilayah budaya dan kesejarahan. Menurut Arkoun, sayap kedua dari realitas keilmuan agama ini perli didekati dengan metode pendekatan kesejarahan.
         Bagi siapapun yang hanya bisa mengkaji literatur keislaman klasik atau apa yang sering sering diistilahkan di tanah air dengan literatur kitab kuning dibawah payung tradisi pemahanan dan pengajaran agama yang melulu bersifat doktrini-dogmatik sulit mengikuti gagasan dan pemikiran Muhamad Arkoun. Pemikiran Muhammad Arkoun sudah banyak dikenalkan di tanah air, baik dalam jurnal Ulumul Qur’an ataupun melalui buku-buku lainnya.
         Pemikiran intelektual Arkoun dilatar belakangi oleh dua peradaban, yakni Islam dan Barat, lalu membentuk sebuah sinergi intelaktual yang sangat tipikal. Sejak awal dia telah berdialektika dengan khazanah pemikiran Islam klasik, dan pada priode selanjutnya dengan khazanah pemikiran Barat, klasik maupun kontempore. Praktis bisa dikatakan, Arkoun merupakan salah satu dari intelektual muslim yang langsung terjun kedalam wacana post modernisme.
Hebatnya, Arkoun tidak mudah terjebak kedalam iklim nihilistik yang banyak diperlihatkan dalam karya-karya filosof post modern Prancis. Bahkan Arkoun mampu memberikan terobosan baru bagi dunia Islam, namun juga bagi dunia Barat yang tengah mengalami krisis modernitas, yang ditandai denagn munculnya sikap exklusif dan Eropa-Sentris yang berbenturan dengan wacana Pencerahan. Akibat arogansi ini adalah pemaksaan model barat yang khas dengan dan unik sebagai produk historisitas mereka terhadap dunia lain yang berujung pada hegemoni barat.
Tentu saja kerja Arkoun itu merupakan sebuah eksperimentasi yang langka dan orisinil bagi khazanah pemikiran Islam mutakhir, sehingga menjadikan sosok arkoun sangat fenomenal. Penguasaannya terhadap sumber-sumber wacana zIslam klasik terlihat sangat mempuni dalam buku ini. Uniknya, arkoun membaca khazanah peradaban Islam klasik itu agak berbeda disbanding intelektual muslim lain. Sebab ia memandang semua kitab suci sebagai wacana “sejarah” yang harus tunduk kepada norma-norma kesejarahan manusia. Pradikma dasar ini jelas memiliki implikasi yang sama sekali berbeda dengan mereka yang memandangnya sebagai “ Closed Corpus” dan untuk itu bersifat meta-sejarah.
         Demonstrasi intelektual yang diperlihatkan Arkoun dalam buku ini sebenarnya sangat khas jika disbanding karya-karya Arkoun lainnya. Sebab didalam buku inilah kita bisa mencermati bagaimana kritisisme terhadap sejarah pemikiran itu semestinya dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar