Minggu, 26 Februari 2012

SEKULARISASI ILMU PENGETAHUAN

       Sekularisasi atau pemisahan antara ilmu atau sains dengan agama mempunyai sejarah panjang dan gelap. Eropa abad pertengahan merupakan masa-masa suram bagi berkembangnya nalar kritis manusia. Kekuasaan berada dibawah otoritas gereja.  Mempertanyakan otoritas gereja sama dengan mempertanyakan otoritas Tuhan. Pembacaan terhadap realitas sepenuhnya merujuk pada kitab suci, sedangkan kitab suci pada masa itu dibaca secara harafiah. Sehingga sampai kini, kaum agama yang membaca kitab sucinya secara literal atau harafiah kerap dijuluki kaum skripturalis. Kaum ilmuwan yang menemukan fakta yang berbeda dengan kitab suci kerap dikucilkan bahkan dituduh ateis.

       Secara historis, kaum ilmuwan yang agamis mendapat tekanan gereja dimasa ini. Ilmuwan seperti Frank G. Bruno, Copernicus, dan puncaknya Galileo-Galilei dipaksa mengingkari penemuannya karena bertentangan dengan ajaran gereja. Hal ini menyebabkan resistensi kaum ilmuwan. Ilmuwan merasa tidak mendapat tempat dalam agama, sedangkan kebenaran yang mereka temukan ada didepan mata. Puncaknya adalah pada abad XVI, zaman pencerahan (aufklarung) pemikiran dari dogma agama yang mengekang di luncurkan. Ditandai dengan masa revolusi industri, zaman ini juga dinamakan masa Renaissance (Kebangkitan kembali ilmu-ilmu Yunani). Abad XVI, zaman akal dimulai. Agama disingkirkan jauh-jauh, karena terbukti tidak dapat menyejahterakan manusia. Ilmu-ilmu Yunani kuno dipelajari dan dihidupkan kembali. Ajaran Aristoteles yang berorientasi materi menjadi rujukan utama, sehingga ilmu dan filsafat berkembang pesat. Lahir ilmu-ilmu dan tokoh-tokoh yang materialistis. Pada ilmu fisika lahirNewton dengan hukum mekanika Newton. Ilmu biologi melahirkan Charles Darwin dengan teori evolusi-nya. Ilmu Psikologi melahirkan Freud yang menganggap agama adalah penyakit kanak-kanak, Sosiologi melahirkan Auguste Comte dengan teori positivisme-nya, ilmu sosial melahirkan Marx yang menganggap agama adalah candu, dan Sastra mengorbitkan Nietzsche dengan buku Sabda Zarathustra-nya yang mengumumkan kematian Tuhan. Jadi, ilmu di barat dapat berkembang ketika ilmu mampu memisahkan diri dari agama.
       Fakta, keilmuan modern yang kita pelajari dikampus-kampus pada hari ini lahir di abad XVIII-XIX, masa keemasan modernitas. Maka, dapat dipahami jika manusia modern saat ini menjadi manusia yang rakus dan cenderung merusak alam demi kepentingan dirinya sendiri. Sebab manusia adalah pusat segala sesuatu (Anthroposentris).
       Pada masa modern ini lahir filosof-filosof kenamaan Eropa dengan berbagai alirannya masing-masing. Tiga aliran besarnya adalah :
1. Rasionalisme yang dimotori 'bapak filsafat modern', Rene Descartes.
2. Aliran Empirisme yang dimotori John Locke.
3. Aliran Kantianisme. Tokohnya Immanuel Kant.
       Implikasi filsafat modern yang menganggap keberadaan sesuatu harus dapat di indera dan di fikirkan, melahirkan metode pengetahuan ilmiah yang harus mengikuti beberapa aturan. Antara lain :
1. Empiris atau dapat diamati.
2. Dapat diukur atau terkuantifikasi.
3. Dapat diverifikasi.
4. Obyektif.
5. dst.
       Pada perkembangannya, filsafat modern ini terbukti tidak dapat menyejahterakan manusia. Manusia bahkan terjebak pada kungkungan berhala-berhala baru. Penyakit umum manusia modern menurut Erich Fromm adalah perasaan teralienasi (keterasingan). Pada akhirnya manusia justru merasa asing dari lingkungan dan bahkan dirinya sendiri. Akibatnya manusia mempunyai persoalan serius mengenai kebermaknaan hidupnya. Isu kehidupan yang bermakna menjadi topik terpenting abad ini. Hidup yang tidak bermakna atau absurd bahkan telah membuat seorang filosof bernama Albert Camus memutuskan mati bunuh diri.
       Sejarah keilmuan sekuler barat menafikan Tuhan dalam perkembangan ilmunya. Karena kematian Tuhan telah diumumkan, maka kini manusia bebas melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini karena perkembangan ilmu didasarkan pada paradigma Antroposentris (berpusat pada manusia). Kini, pada akhir abad XX, banyak ilmuwan maupun filosof barat sekuler yang mulai mempertanyakan kebebasan dan kemahakuasaan manusia sebagai sesuatu yang melelahkan. Seperti yang dikatakan Sartre; Manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan kebebasannya, manusia justru merasa terasing dari diri sendiri dan masyarakatnya, merasa absurd. Banyak fenomena kekinian menunjukkan masyarakat sekuler barat mulai lelah dengan ateisme. Mereka mencari sesuatu yang transenden, sesuatu yang lebih tinggi dari manusia.
       Fenomena keresahan dibarat-sekuler membuat mereka kembali melirik hal-hal berbau agama, sehingga muncul ide tentang hubungan antara agama dan ilmu. John F. Haught (2004) menjabarkan setidaknya ada 4 pendekatan relasi agama dan Sains :
1.   Pendekatan Konflik. Berasumsi pada dasarnya sains dan agama tidak dapat rujuk.
2.  Pendekatan Kontras. Berasumsi tidak ada pertentangan riel antara agama dan sains, karena keduanya memberi tanggapan pada masalah yang berbeda.
3. Pendekatan Kontak. Berupaya berdialog, berinteraksi, dan kemungkinan adanya "penyesuaian" antara sains dan agama, terutama mengupayakan agar sains ikut mempengaruhi pemahaman religius dan teologis.
4. Pendekatan Konfirmasi. Perspektif ini meyoroti cara-cara agama pada tataran yang mendalam, mendukung dan menghidupkan segala kegiatan ilmiah.
       Maka lahirlah filosofi postmodern. Mengenai keilmuan, seorang filosof postmodern bernama Karl Popper dalam Benson dan Grove (2000) membagi teori menjadi 2 jenis :
  1. Teori ilmiah. Teori yang dapat dibantah, artinya dapat dibantah kebenarannya.
  2. Teori yang tidak ilmiah. Teori yang tidak dapat dibantah, artinya tidak dapat dibantah kebenaran atau kesalahannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar